KOTA TANGERANG

Program Kampung Iklim Bebas Banjir: Biopori Jumbo Tangerang Berhasil Atasi Genangan Air

Ilustrasi Biopori

BANTEN.co – Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tangerang Engkos Zarkasyih menyatakan program biopori ukuran jumbo dalam program Kampung Iklim Bebas Banjir di 300 pemukiman warga Kota Tangerang sejak pertengahan tahun lalu, berhasil mengatasi masalah genangan saat musim hujan.

“Genangan yang selama ini menjadi masalah saat musim penghujan tiba, kini telah terselesaikan dari upaya warga sendiri yang secara mandiri membuat lubang biopori berukuran jumbo di lingkungan rumahnya,” katanya di Tangerang, Sabtu (17/02).

Engkos menjelaskan program Kampung Iklim Bebas Banjir memiliki 11 kegiatan, yakni Urban Farming, Penghijauan, Penghematan Energi, Sumur Resapan, Biopori, Penataan Lingkungan, Pengolahan Air Limbah, Bank Sampah, Pengurangan Sampah Di Sumber (3R), Komposting dan Tanaman Obat Keluarga (Toga).

Pembuatan biopori dalam program itu, katanya, berbeda karena lebih besar dari yang biasanya berukuran 10 centimeter kini menjadi 30 centimeter. Tujuannya mengurangi genangan ketika hujan turun.

“Program biopori telah efektif mengatasi genangan di pemukiman warga, seperti di Gerendeng Pulo. Biasanya terjadi genangan mencapai 30 centimeter, kini sudah tidak lagi berkat warga membuat biopori,” ujarnya.

Lubang biopori menjadi tempat resapan air hujan ke dalam tanah dan mengurangi genangan. Program itu akan terus ditingkatkan namun dengan diameter lubang lebih besar.

Pemkot Tangerang telah mencanangkan pembuatan sejuta biopori mulai dari pemukiman, sekolah, hingga kantor pemerintahan yang semunya melibatkan warga.

Penanganan banjir lainnya yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Tangerang pada tahun ini dengan membangun embung di Kecamatan Karang Tengah senilai Rp2 Miliar.

Masalah banjir yang biasanya merendam pemukiman warga karena limpasan air dari Kali Angke, ditargetkan terselesaikan pada tahun ini.

Sementara, Kepala Bidang Tata Air Dinas PU dan Tata Ruang Kota Tangerang Taufik Syahzeni menjelaskan embung sebagai tempat penampungan air sementara.

“Ketika terjadi limpasan air dari Kali Angke maupun debit air yang tinggi akibat curah hujan, air bisa ditampung di embung tersebut,” ucapnya.

Usaha lainnya yang dilaksanakan dalam mengatasi banjir di Karang Tengah pada tahun lalu dengan membangun turap di Kali Angke.

Proses penurapan yang terus berjalan sejak beberapa tahun tersebut adalah bagian dari penanganan banjir di wilayah timur Kota Tangerang.

Selain itu, Pemkot Tangerang melengkapinya dengan sembilan pompa air yang siap memompa air yang limpas ke permukiman warga.

“Jika memang adanya banjir yang menggenangi pemukiman warga maka pompa yang ada siap dipergunakan. Jadi, usaha penanganan banjir ini terus berjalan,” katanya.

Seorang ketua rukun warga yang juga Ketua DKM Masjid Nurul Amal di Kompleks Pondok Bahar, Ustadz H. Mansur, menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Tangerang yang telah berusaha keras meminimalisasi banjir yang telah menjadi langganan warga.

“Ini alhamdulillah dari tahun kemarin sampai sekarang belum banjir, dan mudah-mudahan sampai seterusnya enggak banjir,” ungkapnya.

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Tangerang, Banten telah menyiagakan sejumlah alat pendukung, seperti karung berisi pasir, beronjong, dan pompa penyedot air dalam mengantisipasi banjir.

Alat pendukung yang dimiliki Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang setempat, adalah pompa penyedot air 127 unit, karung plastik, pasir, batu kali, beronjong. Selain itu, alat seperti amfibi dan eksavator masing-masing tiga unit, serta perahu tiga unit.

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Air Kota Tangerang telah menyiagakan petugas lapangan yang membantu dalam proses penanganan banjir. Jumlah mereka 665 orang, belum termasuk dari instansi lainnya, seperti Tagana, BPPB, dan relawan.

Terkait dengan penanganan banjir oleh Pemerintah Kota Tangerang pada tahun lalu, antara lain normalisasi sungai dan embung di 15 lokasi, pengerukan, dan pembersihan sungai serta saluran pembuang dari material sedimen, pemeliharaan dan perbaikan pintu-pintu air di 261 titik.

Selain itu, pemasangan “U-ditch”, “box culvert”, normalisasi dan rehabilitasi saluran drainase di 523 lokasi, pemasangan 20 titik jaring perangkap sampah dan pembangunan dan rehab embung/tandon air di empat lokasi.

 

(TP/Ant)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com