LEBAK

Pengamat: Pesisir Lebak Rawan Gempa dan Tsunami

BANTEN.co – Pengamat geologi Asep Budiarto mengatakan pesisir selatan Kabupaten Lebak, Banten, masuk kategori rawan gempa tektonik hingga menimbulkan tsunami sehingga pemerintah daerah harus melakukan upaya penanganan guna meminimalisasi korban bencana.

“Peluang kegempaan Megatras dengan berkekuatan cukup besar hingga menimbulkan gelombang tsunami sangat berpotensi,” kata Asep, Jumat (16/2).

Pemerintah daerah (Pemda) harus melaksanakan pembangunan di selatan Kabupaten Lebak berdasarkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) guna meminimalisasi korban bencana alam.

Selama ini, kata Asep, pesisir selatan Kabupaten Lebak masuk daerah merah rawan gempa tektonik dan berpotensi gelombang tsunami.

Potensi gempa tektonik itu karena adanya patahan atau sesar di Perairan Samudera Hindia dengan Benua Indo-Australia dan di bagian selatan juga Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian timur.

Bahkan, BMKG telah menyinggung sangat potensi gempa Megatras berkekuatan besar hingga 9 Skala Richter (SR) yang berpusat di pantai pesisir selatan Lebak meliputi enam kecamatan antara lain Wanasalam, Malingping, Cihara, Panggarangan, Bayah dan Cilograng.

“Kami minta pemerintah daerah dapat melaksanakan pembangunan di wilayah pesisir Lebak mengutamakan RUTR untuk meminimalisasi korban bencana alam,” ujarnya menjelaskan.

Asep mengatakan pihaknya khawatir suatu saat wilayah pesisir selatan Lebak terjadi gempa tektonik Megatras atau pergerakan kegempaan yang cukup besar energinya hingga menimbulkan gelombang tsunami.

Sebab, pihaknya hingga kini tidak mampu merekam aktivitas kegempaan yang terjadi di pesisir selatan Lebak, sedangkan kegempaan di Perairan Ujung Kulon bisa terekam.

Kemungkinan pesisir selatan Lebak akan terjadi gempa tektonik Megatras sehingga perlu diwaspadai bencana alam tersebut.

Untuk meminimalisasi korban jiwa, pihaknya berharap pemerintah terus mengoptimalkan sosialisasi kebencanaan mitigasi terhadap masyarakat pesisir selatan.

Kegiatan sosialisasi itu dalam upaya mengurangi risiko kebencanaan agar tidak menimbulkan korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi gempa tektonik.

Belum lama ini, gempa Selasa (23/1/2018) lalu berkekuatan 6,1 SR mengakibatkan ribuan rumah di Kabupaten Lebak, Sukabumi dan Bogor mengalami kerusakan. Selain itu, juga dilaporkan seorang warga Kabupaten Lebak meninggal dunia.

Gempa tektonik berkekuatan 6,1 SR juga masuk kategori besar karena getaran sampai Jakarta dan Bandung. “Pemda dapat mengoptimalkan sosialisasi kebencanaan mitigasi agar tidak memakan korban jiwa yang banyak,” harap Asep.

Sejauh ini, ujar dia, ilmu pengetahuan teknologi juga peralatan secanggih apapun belum mampu mendeteksi secara persis waktu terjadinya gempa tektonik dan tsunami.

Ia berharap peringatan dini gempa tektonik dan tsunami harus secepatnya dilakukan sehingga masyarakat pesisir pantai selatan Lebak bisa terselamatkan dari bencana tsunami tersebut.

Penyelamatan membutuhkan waktu selama 10 menit setelah terjadi gempa, sehingga korban tidak berjatuhan. “Kami minta warga dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa tektonik itu,” katanya.

 

(SAM/Ant)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com