BERITA

Lebak Maksimalkan Pemahaman Bencana Tsunami

Banten.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, akan memaksimalkan pemahaman bencana tsunami agar tidak menimbulkan korban banyak.

“Kita jangan sampai korban tsunami seperti yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) tahun 2004 hingga menewaskan 120.000 orang dan kerugian material Rp 45 triliun,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, Nana Sukmana Kusuma di Anyer, Banten, ditulis Rabu (30/3).

Pemahaman bencana tsunami itu melalui kegiatan sosialisasi workshop dan simulasi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir Pantai Anyer dan Cinangka. Sebab, pesisir barat Provinsi Banten dipetakan masuk daerah potensi kegempaan dan tsunami.

Potensi gempa dan gelombang tsunami itu karena posisinya berada di wilayah pertemuan (tumbukan) lempengan Samudra Hindia Australia-Benua Asia. Kegiatan workshop dan simulasi itu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman agar masyarakat bisa terhindari dari bencana tsunami.

Selama ini, gempa dan tsunami tidak bisa diprediksikan oleh ilmu pengetahuan juga peralatan canggih. Karena itu, gempa dan tsunami bisa terjadi kapanpun, sehingga masyarakat harus diberikan pengetahuan dan pemahaman peringatan dini. “Kami yakin kegiatan simulasi dan workshop ini merupakan investasi yang bisa meminimalisasi korban jiwa,” katanya.

Menurut dia, selama ini pemahaman masyarakat belum maksimal tentang bencana tsunami sehingga bagaimana jika sewaktu-waktu terjadi bencana tersebut. Pihaknya telah membuat jalur evakuasi dengan lima titik guna memudahkan penyelamatan dari ancaman tsunami.

Selain itu juga masyarakat harus berperan aktif untuk mencegah korban jiwa dengan melakukan pengawasan juga perlindungan terhadap peralatan kebencanaan. Pemasangan alat-alat kebencanaan itu seperti alat deteksi dan sirene tsunami.

Peralatan itu cukup penting untuk menyelamatkan nyawa orang dengan mengenalkan informasi bunyi tanda bahaya sirene. “Kita tanggal 26 setiap bulan membunyikan sirene tsunami agar dirawat dan tidak dirusak maupun dicuri,” ujarnya.

Kepala Pusat dan Gempa Bumi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muhammad Riyadi mengatakan selama ini pesisir selatan Provinsi Banten dipetakan daerah berpotensi gempa dan tsunami.

Karena itu, pihaknya bekerja sama dengan BPBD se-Banten untuk memperkuat BMKG dan BPBD dalam memahami mata rantai peringatan dini tsunami.

Selain itu juga BMKG memiliki tanggung jawab sebagai penyedia informasi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 untuk menyebarluaskan kebencanaan alam itu.

Riyadi menandaskan bahwa penyebaran informasi itu agar masyarakat pesisir Banten dapat terselamatkan dari ancaman gelombang tsunami.

Peringatan dini tsunami itu terdapat empat tahapan yang dilakukan BMKG, antara lain: pertama, hasil monitoring pengamatan gempa dan gelombang; kedua, diproses pengamatan kekuatan gempa dan tsunami; ketiga, disebarluaskan informasi kepada masyarakat, BPBD, media, aparat desa, dan kecamatan.

Keempat, dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami dengan status siaga serta waspada bencana alam tersebut. “Kami yakin pengoptimalan peringatan dini ini bisa meminimalisasi angka kematian juga kerugian material akibat bencana tsunami itu,” katanya.

Banten | Antara | Ari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com