BERITA

Lebak Kucurkan Rp 3,7 Miliar untuk Bantu Ribuan Siswa Miskin

Banten.co – Pemerintah Kabupaten Lebak membantu sebanyak 11.512 siswa SMA/SMK dari keluarga miskin mendapatkan bantuan operasional daerah sekitar Rp 3,7 miliar.

“Kami berharap bantuan bosda itu agar mereka bisa bersekolah,” kata Bupati Lebak Iti Octavia di hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat acara ‘Gerakan Indonesia Membaca’ di Lebak, ditulis Jumat (1/4).

Pemerintah daerah menggratiskan sebanyak 11.512 siswa miskin jenjang SMA/SMK untuk mendukung program ‘Lebak Pintar’ dengan mengalokasikan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 3,7 miliar tahun 2016.

Mereka siswa miskin dari keluarga tidak mampu itu dalam bentuk Bosda dengan masing-masing siswa menerima bantuan Rp 1 juta per tahun. Namun, pencairan dana bantuan itu melalui sekolah yang bersangkutan dan bukan untuk siswanya.

Pada tahun ajaran 2014-2015, Lebak juga telah menyalurkan bantuan kepada 6.089 siswa miskin yang melanjutkan pendidikan ke kelas 10 SMAN/SMKN itu. “Kami setiap tahun mengalokasikan bagis siswa miskin agar mereka tidak putus sekolah,” katanya.

Menurut dia, bantuan bagi siswa miskin itu disalurkan melalui rekening sekolah masing-masing untuk menghindari penyelewengan dana tersebut. Kriteria siswa yang berhak dibantu adalah mereka yang benar-benar berasal dari keluarga miskin atau memiliki kartu miskin yang dikeluarkan pemerintah.

Iti Octavia mengimbau seluruh siswa miskin yang kini duduk di bangku SMA/SMK tidak ada alasan mereka putus sekolah. “Kami minta siswa miskin tetap melanjutkan pendidikan dan pemerintah menggratiskan bagi siswa miskin,” katanya.

Kepala SMAN 1 Warunggunung Kabupaten Lebak Tuti Tuarsih mengatakan pihaknya juga menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa miskin, di antaranya pembayaran sumbangan partisipasi pendidikan (SPP), praktik ujian, sampai dana sumbangan pendidikan (DSP).

Namun, kata dia, pihaknya berharap pemerintah mengucurkan bantuan tambahan bagi siswa miskin, seperti kelengkapan peralatan sekolah juga biaya. “Kami berharap program bantuan siswa miskin itu terus berlanjut untuk mendukung wajib belajar 12 tahun,” katanya.

Sementara itu, sejumlah siswa miskin di Rangkasbitung mengaku senang dengan kebijakan ‘menggratiskan pendidikan tingkat SMA/SMKN’ itu.

“Kami merasa terbantu dengan adanya pendidikan gratis karena kami hanya buruh cuci, tentu tak mampu membiayai pendidikan anak kami yang kini duduk di kelas I SMKN Rangkasbitung,” kata Aminah (45), warga Sentral Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangaksbitung.

Banten | Antara | Yudo

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com