PANDEGLANG

Sudah Sebulan, Pengusaha Beras Pandeglang Datangkan Gabah dari Lebak

BANTEN.co – Sejumlah pengusaha penggilingan beras di wilayah Pandeglang mendatangkan gabah dari petani Kabupaten Lebak.

“Kami sudah sebulan terakhir ini mendatangkan gabah dari petani Lebak dengan harga Rp5.000 per kilogram,” kata Iroh, pengusaha beras warga Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Selasa (02/01).

Saat ini, pasokan gabah di wilayah Kabupaten Pandeglang mengalami masa “paceklik” atau gagal panen akibat serangan hama wereng batang coklat (WBC).

Selain itu juga saat ini di berbagai daerah di Pandeglang memasuki musim tanam. Oleh karena itu, pihaknya terpaksa mendatangkan gabah dari petani Kabupaten Lebak.

Sebab, panen padi di daerah itu masih berlangsung.”Kami setiap dua hari mendatangkan gabah dari petani Lebak sekitar 5 ton,” katanya.

Menurut dia, saat ini harga gabah kering pungut (GKP) di tingkat petani cukup tinggi antara Rp5.000 sampai Rp.5.500 per kilogram.

Harga gabah sebesar itu tentu di atas harga patokan pemerintah (HPP) Rp4.600/Kg. Selama ini, para pengusaha beras di wilayahnya masih mendatangkan gabah dari petani Lebak.

Apabila, dirinya kesulitan untuk mendapat gabah tentu akan mendatangkan gabah dari Karawang, Jawa Barat. “Kami berharap petani segera kembali memasuki musim panen dan tidak terserang hama maupun penyakit tanaman lainnya,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, saat ini harga beras di pasaran relatif naik akibat petani belum memasuki musim panen.

Kenaikan harga beras itu tentu omzet penjualan juga menurun hingga 30 persen. Saat ini, harga beras kategori KW I sudah menembus Rp11.000/Kg, padahal sebelumnya hanya Rp10.000/Kg.

Diprediksi kenaikan harga beras itu hingga Februari karena panen perdana pada Maret mendatang. “Semua produksi beras itu kembali dijual ke berbagai daerah di wilayah Banten,” katanya.

Begitu juga Putra,seorang pengusaha pabrik beras di Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang mengaku dirinya setiap pekan mendatangkan gabah dari petani Lebak.

Sebab, petani Pandeglang hingga kini belum ada yang dipanen karena mereka petani kebanyakan tanam pada November-Desember 2017. “Kami bingung kelangkaan gabah itu sehingga harga jual gabah terjadi kenaikan,” katanya.

Ia mengatakan, dirinya beruntung masih memproduksi beras karena mendatangkan gabah dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak.

Selama ini, pengusaha beras sudah hal biasa jika terjadi masa paceklik tentu mendatangkan gabah dari luar daerah. “Kami berharap kelangkaan gabah itu bisa secepatnya petani memasuki musim panen,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan, selama ini wilayah Lebak menjadikan lumbung pangan di Provinsi Banten.

Sejauh ini, produksi beras Lebak surplus hingga 13 bulan ke depan dengan produksi di atas 250 ribu ton.

Namun, produksi pangan di daerah ini juga sebagian dipasok gabah ke luar daerah, seperti Pandeglang, Serang, Bogor dan Lampung. “Kami mendorong petani menjual beras karena bisa menguntungkan berlipat ganda dibandingkan menjual gabah,” katanya. (Prast/Ant)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com