RELIGI

Ponpes Assayfiyyah Rangkasbitung Gelar Kajian Kitab Kuning

Banten.co – Pondok Pesantren Assayfiyyah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak menyelenggarakan kajian berbagai kitab kuning guna meningkatkan kemampuan membaca maupun pendalaman ilmu keagamaan bagi peserta didiknya atau santri.

“Kami setiap bulan Ramadhan menggelar pengajian khusus untuk memperdalam kajian kitab kuning,” kata Ketua Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Assayfiyah Rangkasbitung, KH Deden Alfiansari di Lebak, Rabu (15/6).

Pengajian khusus selama Ramadhan tersebut dengan santri yang belajar dari berbagai daerah di Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Lampung. Mereka memperdalam kajian kitab kuning khas Ponpes Salafiyah yang berkembang di Tanah Air dengan sistem coretan untuk memaknai isi kitab itu. Sebab kitab kuning itu disebut kitab gundul karena huruf-hurufnya belum memiliki tanda baca dzoma, fathah dan kasrah, katanya.

Selain itu juga makna harfiah bisa berubah dan perlu pengkajian khusus serta diskusi sehingga memiliki kompetensi di bidang pengetahuan agama Islam. Pengkajian kitab kuning itu meliputi ilmu Fiqih, Akidah, Tasauf, Ibadah, Tafsir Alquran, dan lain-lainnya.

Pendalaman ilmu Fiqih, tambahnya, seperti kitan Fathul Muin, Tasauf kitab Nasuhaibad, Tafsir Alqunan kitab Jalalen, dan ilmu kalimat bahasa Arab kitab Alfiyah dan Nahu. “Kami berharap melalui pengkajian kitab kuning ini tentu kemampuan santri bisa bertambah baik pembacaan maupun memaknainya itu,” katanya menjelaskan.

Ia menyebutkan bahwa ponpes yang didirikan tahun 1980 itu telah meluluskan ribuan santri dan kini terus berkembang dalam upaya membantu program pemerintah. Mereka para alumni di sini juga mengembangkan ponpes di daerah asalnya juga banyak menjadi ulama,kiyai maupun ustad.

Sebab pada prinsipnya ajaran Islam itu seluruh manusia harus memiliki ilmu sebagai bekal hidup dunia dan akhirat nanti. Karena itu, pihaknya sejalan dengan program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Saya kira dengan pengkajian kitab kuning tentu manfaatnya cukup besar bagi kemajuan Islam di Tanah Air,” katanya.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kabupaten Lebak Asep Sunandar menyebutkan pengajian kitab kuning pada bulan suci Ramadhan itu kebanyakan diselenggarakan oleh ponpes tradisional atau salafi.

Saat ini, jumlah ponpes di Kabupaten Lebak tercatat 1.122 ponpes dengan sistem pembelajaran salafi dan modern. Perkembangan ponpes di daerah ini sangat luar biasa karena tahun ke tahun terus meningkat.

Bahkan, Kabupaten Lebak merupakan daerah santri di Provinsi Banten. “Kami mendorong pengelola ponpes agar terus meningkatkan kompetensi pendidikan Islam guna mencetak manusia yang berakhlak,” katanya.

Ia menambahkan, pengajaran ponpes di Kabupaten Lebak dinilai cukup bagus dalam membantu program pemerintah yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apalagi, saat Ramadan banyak ponpes menyelenggarakan pengajian khusus, seperti kitab gundul untuk memperdalam ilmu fikih, tauhid dan bacaan qiro’at Alquran. Kementerian Agama terus mengoptimalkan pembinaan agar lulusan ponpes memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM) dan bisa berperan di masyarakat.

“Hampir semua desa memiliki ponpes, sehingga dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan bangsa dan bernegara,” katanya.

Banten | Ant | Ari

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com