LEBAK

Periode 2000-2017, Penderita HIV dan AIDS di Lebak Tembus 215 Orang

Ilustrasi | Ist

Banten.co – Kasus penderita Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) dalam kurun waktu 2000-2017 di Kabupaten Lebak mencapai 215 orang, di antaranya 96 penderita dilaporkan meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dr Firman Rahmatullah mengatakan bahwa selama ini penyebaran penyakit HIV/AIDS tahun ke tahun meningkat sehingga perlu dilakukan pencegahan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, pemerintah daerah, termasuk media.

“Penyebaran HIV/AIDS juga mengancam generasi bangsa karena kualitas kehidupan mereka tidak produktif,” ucapnya, Rabu (29/11)

Bahkan, mereka para penderita dalam waktu jangka lama bisa menimbulkan kematian karena hingga kini belum ditemukan obatnya. Pemerintah daerah terus berupaya melakukan pencegahan agar penyakit menular tersebut tidak menyerang warga lainnya.

Pencegahan itu, kata dia, pihaknya mengoptimalkan sosialisasi ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi hingga organisasi kemasyarakatan. “Kami menerima laporan kasus baru warga yang positif terserang HIV/AIDS tahun ini tercatat 40 orang dan mereka kebanyakan usia produktif,” ujarnya.

Menurut Firman, 215 penderita HIV/AIDS itu kebanyakan teridentifikasi ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya yang terlebih dahulu positif HIV/AIDS.

Penyebaran penderita HIV/AIDS karena ditularkan melalui jarum suntik, narkoba, dan hubungan seks bebas. Selain itu, terjadi transfusi darah dari penderita yang positif terkena virus HIV/AIDS kepada orang yang negatif.

Begitu juga bayi yang menyusui dari ibunya yang positif penyakit HIV/AIDS. “Kami minta peran serta tokoh agama, keluarga dan masyarakat bisa mencegah penyebaran penyakit yang mematikan itu,” ujarnya.

Ia mengatakan selama ini penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Lebak seperti fenomena gunung es.

Sehingga perlu adanya tindakan pencegahan dan penanggulangan dari masyarakat. Sebab banyak juga kasus penderita yang tidak terdeteksi oleh tim medis karena mereka tak dilakukan pemeriksaan.

Sedangkan yang diketahui menderita HIV/AIDS setelah dilakukan pemeriksaan tim medis. “Kami mengimbau pelajar agar berhati-hati dalam pergaulan dan jangan sampai terlibat kasus narkoba dan pergaulan bebas sehingga rawan terhadap penyebaran virus mematikan itu,” katanya.

Sementara, Kepala Bagian Humas RSUD Adjidarmo Rangkasbitung Budi Kuwandi mengatakan semua penderita HIV/AIDS digratiskan melalui bantuan pemerintah. “Mereka penderita HIV/AIDS mendatangi Klinik Seroja untuk mendapatkan pengobatan terapi antiretroviral atau ART,” ujarnya.

Terapi ini, kata dia, dilakukan secara terus-menerus agar efektif. Pengobatan terapi ART tidak dapat menyembuhkan HIV, namun dapat mempertahankan hidup lama. “Sebelumnya, obat ART sulit ditemukan juga harganya sangat mahal,” tegasnya.

Namun, saat ini pengobatan ART digratiskan oleh pemerintah melalui rumah sakit rujukan ARV. “Saya kira melalui pengobatan gratis itu tentu dapat meningkatkan kualitas penderita agar bisa bertahan hidup lama,” katanya. (Inka)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com