LEBAK

Optimalkan gerakan tanam, cara bertahan hidup petani Lebak di tengah pandemi

Ilustrasi petani bercocok padi | Foto: Istimewa

Banten.co – Petani Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mengoptimalkan produktivitas di tengah pandemi COVID-19 guna memenuhi ketersediaan pangan juga peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

“Kami memanen padi bulan Maret mendatang seluas 150 hektare,” kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Suka Bungah Desa Tambakbaya Kabupaten Lebak Ruhyana (54) di Lebak, belum lama ini.

Mereka petani di sini di tengah pandemi COVID-19 tetap melaksanakan gerakan tanam serentak pada awal Januari dan memasuki panen dipastikan Maret 2021.

Gerakan penanaman itu untuk memenuhi ketersediaan pangan juga penyerapan lapangan pekerjaan masyarakat, dari mulai pemetik padi, pengangkut, pabrik penggilingan dan pedagang setempat.

Selama ini, pertanian pangan di wilayahnya menjadikan andalan pendapatan ekonomi masyarakat, karena sebagai sentra lumbung pangan di Kabupaten Lebak. “Jika panen padi di sini tentu pertumbuhan ekonomi warga setempat meningkat,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, selama ini, perkembangan tanaman padi di areal Blok Tambakbaya Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak relatif baik tanpa serangan hama penyakit maupun organisme penganggu tanaman (OPT).

“Meski saat ini, petani kesulitan pupuk bersubsidi, namun tanaman padi tumbuh subur dan hijau berkisar usia 20 hari setelah tanam,” ucapnya.

Mereka, lanjutnya, para petani kini terpaksa menggunakan pupuk organik dari limbah kotoran peternakan ayam agar tanaman padi tumbuh dengan subur hingga bisa dipanen.

“Kami berharap pasokan pupuk bersubsidi segera direalisasikan sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas pangan,” katanya.

Ia mengatakan, mereka petani berjuang keras di tengah pandemi COVID-19 agar swasembada pangan bisa direalisasikan dan tidak impor beras dari luar negeri.

Selama ini, petani di wilayahnya menggarap seluas 150 hektare dan dipastikan panen Maret 2021, karena menggunakan benih bersertifikat hijau dengan panen selama 90 hari setelah tanam.

Produksi dan produktivitas pangan di sini, kata dia, petani bisa memenuhi permintaan beras untuk Pasar Rangkasbitung sebanyak 30 ton/bulan.

Selain itu juga bisa membantu kebencanaan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) 50 ton/tahun.

“Kami menjamin di tengah pandemi COVID-19 tetap produksi dan produktivitas pangan ditingkatkan guna mewujudkan kesejahteraan warga,” katanya menjelaskan.

Begitu juga Samian (55) seorang petani di Blok Sentral Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengaku bahwa dirinya kini menanam padi seluas satu hektare dan dipastikan panen awal Maret 2021.

Saat ini, tanaman padi miliknya tumbuh subur dan hijau karena tidak ada serangan hama maupun penyakit tanaman.

“Kami berharap panen mendatang bisa menghasilkan keuntungan dengan produktivitas delapan ton gabah kering pungut (GKP)/hektare. Jika harga itu Rp5.000/Kg maka bisa menghasilkan Rp40 juta,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan pemerintah daerah mendorong agar petani terus melaksanakan gerakan percepatan tanam di tengah pandemi COVID-19 guna mewujudkan swasembada pangan nasional dan peningkatan ekonomi.

“Kami optimistis panen raya di sini akan terealisasi Maret 2021 hingga 44 ribu hektare dan mampu memenuhi ketersedian pangan,” katanya. (Ant)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com