RELIGI

Mengabdi Seumur Hidup untuk Kaligrafi

Banten.co – Seniman kaligrafi Arab Didin Sirojuddin AR memutuskan untuk mengabdi seumur hidup sebagai guru kaligrafi. Pengabdian itu dia wujudkan dengan mendirikan lembaga kursus dan pesantren kaligrafi. Dia berkeyakinan melalui melalui seni kaligrafi, Islam tampil lebih lembut dan bersahaja.

Didin

Pertemuan Didin dengan seni kaligrafi atau khat terjadi saat memondok di Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Usai memondok, keinginannya memperdalam seni di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tidak direstui sang ayah. Alasannya, ayah Didin khawatir anaknya itu jauh dari agama.

“Ayah saya berkata, di Yogya ada masjid tidak Din , takut murtad. Ya ada lah masjid,” tutur Didin mengenang perbincangan dengan ayahnya.

Akhirnya Didin melanjutkan studi ke Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta—kini UIN Jakarta. Justru di ibukota lah Didin muda mendapat pengalaman baru soal seni rupa yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dia mendatangi sejumlah pameran seni rupa di hotel, galeri seni rupa, museum, Mitra Seni Indonesia, dan Taman Ismail Marzuki. Dari situlah, pemahaman Didin seni lukis dan kaligrafi semakin kaya. Di kampus, dia pun giat menulis kaligrafi untuk buku-buku pelajaran agama dan dinding-dinding masjid.

Kendati mahir menyambungnyambungkan huruf tunggal Arab, tetapi Didin belum mengetahui seni kaligrafi secara teoritis. Wawasannya kekaligrafian Didin kian berkembang, saat diminta manajemen kampus untuk mengajar dan menyusun diktat kaligrafi sebanyak 40 lembar untuk almamaternya. Namun, saking semangatnya menulis, Didin menyelesaikan permintaan tersebut dengan tebal diktat sebanyak 450 halaman.

“Begitu diperlihatkan ke mahasiswa tebalnya diktat itu, satu pun tak ada yang memfotokopi. Namun, itulah buku pertama saya tentang seni kaligrafi Islam,” ungkapnya.

Dimulai dari diktat tersebut, perjalanan Didin menapaki seni kaligrafi mulai terbuka. Waktu itu dia masih belum puas jika hanya mengajar kaligrafi di kampus. Sebab citacitanya adalah mendirikan lembaga penampung peminat kaligrafi, sembari menulis buku-buku tentang seni Islam ini. Tujuan itu menjadi wajar karena sanggar kaligrafi pada masa itu masih jarang ditemukan. Tak hanya di Jakarta, tetapi seluruh Indonesia.

Sejurus lamanya, impian Didin teralisasi. Tepatnya, pada 1985, dia mendirikan Lembaga Kaligrafi Al Quran (Lemka). Sempat bingung ihwal nama ini, awalnya hendak dinamakan Lembaga Kaligrafi Ciputat. Penamaan itu urung dilakukan karena khawatir diartikan Lembaga Komunis China. Diusulkan nama lain, Lekra, itu pun sudah digunakan lembaga kebudayaan komunis.

Setelah berdiskusi dengan rekan-rekannya, diputuskan nama Lemka yang jauh dari asosiasi-asosiasi pihak atau kelompok tertentu. Kali pertama kelas kaligrafi dibuka, Didin mengajarkan semua jenis-jenis kaligrafi Naskhi, Tsuluts, Riq’ah, Diwani, Farisi, dan Kufi kepada murid-muridnya.

Di luar dugaannya, para murid Didin merasa kewalahan dengan metode pengajaran Didin tersebut. Mereka memprotes gaya pengajaran itu hingga kelasnya pun bubar. “Pak jangan diberikan semua . Dicicil, pusing kami,” kata Didin mengenang ucapan seorang muridnya. Mendapat pengalaman berharga itu, Didin lalu memperbaiki tata cara pengajarannya.

Pada gelombang kedua, para murid diajarkan kaligrafi secara berjenjang. Dimulai dari dasar seperti Naskhi hingga level mahir seperti Tatawarna. Metode pengajaran ini terus dipertahankan Didin hingga sekarang. Setelah Lemka, tepatnya 13 tahun kemudian, Didin mendirikan Pesantren Kaligrafi Al Quran Lemka di Sukabumi, Jawa Barat. Melalui dua lembaganya itu, dia memberikan sumbangsih penting bagi perkembangan kaligrafi di Indonesia.

Seiring waktu, Didin berhasil mendorong didirikannya puluhan sanggar kaligrafi di berbagai wilayah Indonesia. Konsepnya pengembangan kaligrafi melalui sanggar-sanggar. Kegiatan di sanggar meliputi kursus, pelatihan kemampuan, pameran, apresiasi, diskusi wawasan seni budaya dan kewiraswastaan guna membuka akses pasar.

“Dalam mengembangkan kaligrafi saya menggunakan prinsip W.S. Rendra, bahwa seniman itu di atas angin. Karena itu saya lemparkan gagasan saya tentang kaligrafi lewat angin agar menyebar ke seluruh Tanah Air,” ucapnya.

Lemka dan pesantren kaligrafi yang dirintis Didin terus berkembang dan tetap eksis sampai saat ini. Ayah satu anak ini meyakini eksistensi tersebut diraih karena berusaha untuk terus adaptasi dengan perkembangan huruf dunia. Kaligrafi bukan cuma hitam putih, melainkan ada tujuan estetis. Sehingga, dengan prinsip tersebut para muridnya dapat mengkreasikan dan menginovasikan seni kaligrafi. Selain adaptif, Didin percaya keberhasilannya ini lantaran kesabaran dan kegigihannya mengelola dua lembaga tersebut.

Filosofi yang selalu diterapkannya, menjadi murid jangan merasa bosan, lalu saat menjadi guru jangan lelah. Guru tidak boleh capai dan murid tak diperkenankan berhenti belajar. Dengan begitu sebuah lembaga pendidikan akan tetap terjaga. Sebab ada dinamika di dalamnya.

Sebagai guru kaligrafi, pria kelahiran Kuningan ini berpandangan teladan itu penting dimiliki seorang guru. Ketika menyuruh orang menulis dan melukis kaligrafi, maka dirinya mempraktikkan hal itu. Dengan teladan ini, murid-murid akan termotivasi untuk dapat berkembang belajar melampaui sang guru.

“Saya tetap konsisten di kaligrafi karena saya senang dengan kesenian ini. Di samping itu saya terdorong mengembangkannya untuk orang lain. Saya adalah guru kaligrafi, jadi tugas saya seumur hidup ada di sini untuk mengembangkannya,” ujarnya.

Selain mengajar, seni kaligrafi menjadi cara Didin berdakwah mengenalkan Islam yang lebih Indah di tengahtengah citra radikalisme dan aksi terorisme mengatasnamakan Islam. Berkaligrafi itu memilih hidup damai dan tentram tanpa hiruk pikuk kebisingan dan pertumpahan darah. Kaligrafi tercipta karena kelembutan, kesopanan, dan kesabaran. Sementara terorisme sendiri tidak mengenal itu semua. Ajarannya sangat jauh dari nilainilai dalam kaligrafi.

“Kaligrafi ajang perhalus rasa dan pikiran. Tak ada kelembutan di dunia terorisme,” ujarnya.

Disela-sela kesibukannya mengurus Lemka dan pesatrennya, Didin senantiasa menyempatkan diri untuk menghasilkan lukisan kaligrafi. Seringkali karya-karya Didin terinspirasi dari lukisan-lukisan maupun karya kaligrafi para maestro. Diambilnya inspirasi itu, diolahnya beragam warna. Jadilah lukisan kaligrafi indah kaya akan warna. “Warna itu jangan dibiarkan, tetapi diolah.”

Didin terbiasa berkarya pada malam hari. Sebab di waktu itu pikiran lebih jernih tidak terkontaminasi pikiran-pikiran lain sehingga memudahkan untuk mengolah rasa. Bangun di malam hari, dikerjakannya sebuah karya kaligrafi hingga pagi menjelang. Didin tak sekadar menulis huruf kemudian mencampurkannya dengan warna, melainkan ada pesan yang mesti dimunculkan pada karyanya. Dia menggabungkan dua pendapat ahli tentang kaligrafi, yaitu bahwa kaligrafi berkaitan dengan cara menyambungkan huruf-huruf.

PRINSIP HIDUP

Didin percaya keberhasilannya ini karena dirinya selalu berpegang pada prinsip jalani hidup sesuai dengan rel yang sudah digariskan sang Pencipta. Oleh karena itu, jika di rel itu ada kewajiban maka harus dijalani. Sebaliknya bila ada larangan tidak boleh dilanggar. “Saya kembangkan huruf Al Quran. Saya melukis dan menulis untuk membangun kreativitas. Bagi saya hidup itu sebuah kreativitas sebagaimana Tuhan begitu kreatif mengatur alam.”

Saat bicara keberhasilan, Didin ingat perkataan Masagung, pendiri Toko Gunung Agung, yang mengatakan jika seseorang tidak berhasil menggapai cita-citanya. Sebetulnya keberhasilan itu sedang ditangguhkan. Ketika menemui kegagalan, diulang lagi perjuangannya sampai keberhasilan datang. Namun perjuangan tersebut harus diperkuat dengan doa.

“Tak ada doa yang tak dikabulkan. Hanya cara pengabulannya berbeda-beda,” ujarnya.

Kendati dianggap berhasil mengembangkan kaligrafi di Indonesia, Didin masih menyimpan asa yang belum tercapai. Impiannya, adalah menjadikan anak muda muslim di Indonesia dapat berkaligrafi, dan kaligrafi menjadi mata pelajaran seni Islam di sekolah.

“Kalau kenal keindahan dan seni Islam, niscaya masyarakat Muslim akan tahu siapa diri dan Tuhan mereka. Kalau lah negeri ini semua orang tahu keindahan, maka hidup akan damai. Cantik caranya bersikap, dan cantik cara berpolitiknya, sehingga tak ada saling hasut dan bunuh,” pungkasnya.

 

Sumber: Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com