NASIONAL

Lapas Gunung Sindur Terapkan Revitalisasi Inovasi, Kreatif dan Kompetitif

Banten.co – Program yang digagas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) terkait revitalisasi mempermudah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) melakukan penilaian kepada setiap warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang bertekad berubah.

Kepala LAPAS Kelas III Gunung Sindur, Kebupaten Bogor, Jawa Barat, Sopiana  mengatakan revitalisasi ini gagasan luar biasa. Revitalisasi membuat setiap kelapala LAPAS (KALAPAS) dituntut berinovasi dalam melakukan pembinaan semua WBP.

“Salah satunya, dengan melihat bakat setiap WBP dan memberikan fasilitas untuk mengembangkan bakat dan kemampuan,” ucapnya, Kamis (25/7).

Sejak enam bulan terakhir LAPAS Kelas III Gunung Sindur yang kini dihuni 1034 WBP melakukan pembinaan intensif. Yang kali pertama mendapat pembinaan adalah petugas dari semua lapisan. Pembinaan tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berkelanjutan, agar setiap petugas memahami tugas pokok dan fungsinya. “Pembinaan kepada WBP berupa pemberian kepastian semua yang menjadi hak dan kewajiban,” kata Sopiana.

Setiap WBP, kata Sopiana, harus tahu bahwa pemberian remisi, mutasi kamar, dan berbagai pelayanan lainnya, tanpa biaya (Gratis). “Kami juga memperkenalkan self service layanan informasi digital bagi WBP tentang hak-hak mereka,” kata Sopiana.

“WBP yang ingin tahu apakah mendapatkan remisi tahun ini, misalnya, tinggal tempelkan sidik jari. Mesin akan menginformasikan apakah WBP mendapatkan remisi atau tidak,” paparnya.

Layanan ini memungkinkan WBP mendapatkan akses penuh ke informasi tentang dirinya, mengikis pertemuan dengan petugas, dan meminimalkan terjadinya pungutan liar (Pungli). “Self Service membuat WBP apa yang harus dan tidak boleh dilakukan agar mendapatkan remisi, tanpa harus meminta penjelasan kepada petugas,” tambahnya.

Menurutnya, setiap LAPAS punya cara berbeda mengimplementasikan revitalisasi. Begitu pula LAPAS Kelas III Gunung Sindur. Di sini, revitalisasi diarahkan pada pembinaan bakat dan kemampuan setiap WBP.

“Kami membangun perpustakaan di setiap blok dan ada juga peralatan musik, dengan waktu bermain setiap Jumat sore,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ada pula ruang video call, untuk memberi hak berkomunikasi narapidana kepada keluarganya. Khusus yang ini, pihak LAPAS bekerja sama dengan pihak swasta sebagai penyedia perangkat teknologi.

“Layanan pengobatan gratis kami lakukan dengan sistem jemput bola,” kata Sopiana.

Selain itu, kata Sopiana, pembinaan kepribadian juga dilakukan dengan memadatkan kegiatan pengajian, dan mengajak setiap santri beribada di masjid. Pengajian tidak hanya di masjid, tapi juga di setiap blok. “Tidak hanya narapidana beragama Islam yang menggelar kegiatan rohani setiap hari, mereka yang beragama lain melakukan hal serupa,” bebernya.

Di luar kegiatan itu, LAPAS punya kegiatan baru, yaitu mengajak napi bercocok tanam, budi daya ikan, pertukangan, belajar bisnis laundry, dan menjahit. Lahan kosong di belakang LAPAS disulap menjadi kebun sayur dan empang.

Usaha pertanian dan perikanan belum sampai ke skala ekonomi, karena keterbatasan lahan. Namun, kata Sopiana, kegiatan ini berhasil menarik minat banyak warga binaan

Terkait sistem yang diterapkan LAPAS untuk mengidentifikasi ketegangan antarblok, Sopiana mengatakan, pihaknya memiliki 91 CCTV, dengan petugas di dalam control room. ”Sedangkan untuk memantau peredaran narkoba, LAPAS Gunung Sindur menggelar razia rutin ke setiap blok dua hari sekali,“ katanya.

Khusus aktivitas keagamaan, LAPAS Gunung Sindur kini memiliki 400 sampai 500 santri tetap. Mereka diberikan kamar khusus, sebagai cara memprovokasi warga binaan untuk mengikuti jejak rekan-rekan mereka menjadi santri.

Yang juga menarik dari LAPAS Gunung Sindur adalah saat Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) Remisi, warga binaan yang mendapat remisi diharuskan mencuci kaki orang-orang yang menjamin mereka.

“Mereka yang masih punya orang tua harus mencuci kaki orang tua dan memohon maaf. Mereka yang tidak punya orang tua, harus mencuci kaki kakak, istri, dan orang-orang yang mereka cintai, seraya mengucapkan maaf,” jelasnya.

Sebelumnya Dirjen Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami mengingatkan kepada jajarannya untuk memiliki pola pikir adaptif, produktif, inovatif dan kompetitif sesuai dengan program revitalisasi pemasyarakatan.

“Kita harus mewujudkan Ditjen PAS sebagai birokrasi yang kian sederhana, simple, lincah, cepat dan responsif dalam memberikan layanan sesuai tugas dan fungsi yang diemban,” tungkasnya.

Utami menegaskan tak perlu ragu berinovasi meski itu berdampak pada pengubahan metode, pola kerja bahkan bila perlu nilai-nilai lama. “Kita harus menganggap semua masalah yang ada di depan mata itu sebagai tantangan yang melecehkan eksistensi institusi kita,” tutup Dirjen Utami.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com