BERITA

Ini Alasan Jumlah Pengangguran di Banten Terus Meningkat

Banten.co – Relokasi pabrik dari kawasan industri Tangerang, Banten ke wilayah Jawa Tengah (Jateng) akibat upah yang tinggi ke wilayah upah yang lebih rendah tidak bisa dihindari.

“Kita relokasi dari Tangerang (Banten), relokasi 29 pabrik ke Jateng (sampai Juni 2019). UMP di Jateng, masih cukup bagus,” kata Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko dilansir CNBC Indonesia, Selasa (12/11/2019).

Seperti diketahui, upah minimum provinsi (UMP) 2019 di Tangerang sudah mencapai Rp 3,8 juta, sedangkan UMP 2020 di Jateng masih Rp 1,7 juta ada selisih yang sangat signifikan. Bahkan kawasan industri macam Kendal, UMK 2019 di sana masih Rp 2 juta.

Aktivitas relokasi ini sejalan dengan tingkat pengangguran di Banten yang tercatat paling tinggi di Indonesia.

“Tingginya upah minimum di Banten jadi salah satu faktor industri padat karya relokasi ke wilayah lain. Ini juga berpengaruh pada tingkat pengangguran di Banten,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (DisnakerTrans) Banten Alhamidi beberapa waktu lalu.

“Salah satunya itu (tingginya UMK). Setinggi apapun upah tidak masalah kalau diimbangi produktivitas tinggi. Perusahaan tidak mau membayar upah melebihi produktivitas,” kata Alhamdi.

Provinsi Jawa Tengah (Jateng) memang telah menjadi primadona baru investasi di Indonesia dari investor baru dari luar maupun relokasi dari provinsi lain.

Sebelumnya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pernah memamerkan kegiatan pemda se-Jateng bertemu dengan calon investor dari China, Jepang, Korea dan lainnya dalam forum Central Java Investment Business Forum (CJIBF).

“Menghasilkan rencana nilai investasi hingga Rp 49,9 triliun dan US$430 juta,” kata Ganjar, Senin (11/11).

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri mengatakan sampai Juni 2019, sudah ada 25 pabrik alas kaki termasuk dari Tangerang, Banten hijrah ke Jateng.

“Alasan utamanya upah minimum yang masih rendah di Jateng, sedangkan upah di Banten khususnya Tangerang makin tinggi termasuk upah minimum sektoral alas kaki,” ucapnya.

Saat ini, akan ada tambahan baru lagi yang relokasi, menurutnya ada dua kemungkinan, ada investor Taiwan masuk Jateng, yang saat ini existing investor Taiwan dari Banten relokasi ke Jateng.

Kemungkinan kedua, adalah investor dari Taiwan yang sama sekali belum pernah investasi di Indonesia sekarang mau investasi ke Jateng.

Firman mengatakan konsekuensi dari relokasi pabrik dari Tangerang ke Banten adalah soal tenaga kerja. “Kalau relokasi itu tidak mungkin karyawannya ikut diboyong,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran mengalami sebesar 5,28% pada Agustus 2019. Realisasi ini turun dibandingkan Agustus 2018 sebesar 5,34%.

Berdasarkan provinsinya, tingkat pengangguran terbanyak berada di provinsi Banten sebesar 8,11% dan kedua adalah Jawa Barat 7,99%.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com