BERITA

BPK ke Krakatau Steel, Hentikan Proyek Pabrik Baja Gunakan ‘Blast Furnace’

Banten.co – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) harus menghentikan proyek pabrik baja dengan teknologi tanur tiup (blast furnace) karena adanya pemborosan.

“Proyek pabrik baja dengan teknologi blast furnace lebih baik dihentikan karena adanya pemborosan,” kata Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan Acshanul Qosasi, dilansir CNBC Indonesia, Selasa (30/7).

Blast Furnace atau biasa juga disebut dengan tanur tiup digunakan untuk mereduksi secara kimia dan mengkonversi secara fisik bijih besi yang padat. “Proses produksi terlalu panjang, sekarang untuk lebih efisien, dihentikan saja,” kata Achsanul.

Sebelumnya, Direktur Utama Silmy Karim PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menyatakan proyek pabrik baja dengan teknologi blast furnace harus dilanjutkan. Proyek pabrik baja berbasis teknologi blast furnace ini sudah diinisiasi 10 tahun lalu, namun sampai saat ini belum terealisasi.

Proyek pembangunan blast furnace complex (BFC) KRAS mencakup Sintering Plant, Coke Oven Plant, Blast Furnace dan Hot Metal Treatment Plant dengan kapasitas produksi 1,2 juta ton baja per tahun.

Silmy menegaskan bahwa ketika dia pertama kali masuk, banyak persoalan melingkupi Krakatau Steel. Persoalan-persoalan tersebut kemudian difilter dan dicari solusi terbaik untuk mengatasinya, salah satunya Proyek Blast Furnace.

“Sebenarnya proyek ini dicanangkan 10 tahun lalu, harusnya sudah jadi tahun 2015. Ketika saya masuk, saya paksa proyek itu selesai, itu tugas kita, terus otomatis proyek itu selesai. Setelah itu ya harus test, dengan test itu kita tahu bener atau tidak proyek itu,” kata Silmy.

Dia menegaskan dengan adanya performance test itu akan kelihatan apakah tujuan proyek tersebut sudah sesuai dengan feasibility study (Studi kelayakan) atau tidak.

Menurut dia, alangkah lebih baik jika yang membuktikan ketidaklayakan proyek itu dari hasil tes dilakukan oleh pihak ketiga sehingga bisa ditarik justifikasi apakah memang benar proyek itu dilanjutkan atau ada opsi untuk menyetop proyek itu.

“Buat kita manajemen baru tak ada beban masa lalu di KRAS, dilanjutkan atau disetop proyek ini adalah bagian dari suatu proses, yang terpenting proyek ini selesai,” tegasnya.

“Kalau proyek blast furnace mangkrak akan lebih parah, mengenai 3 bulan operasi atau 1 tahun operasi, itu berdasarkan pengujian tes, realibilty-nya bagaimana. Ternyata mahal tak sesuai feasibility study, karena naiknya harga gas, lalu investasi membengkak, lalu dicari solusinya, stop atau dikasi penambahan sistem, karena ini masih masih sistem lama.”

Sementara, Komisaris Independen Krakatau Steel, Roy Maningkas mengungkapkan bahwa proyek blast furnace itu bisa membuat perusahaan merugi hingga Rp 1,17 triliun- 1,38 triliun per tahun (US$ 85-96 juta).

Pasalnya, kata Roy, harga pokok produksi dari blast furnace justru menjadi lebih mahal, otomatis harga produk pun akan lebih mahal di pasaran.

“Saya menghitung harga pokok produksi akan lebih mahal sekitar US$ 70-82 per ton. Kalau kapasitasnya 1,2 juta ton kan besar sekali kerugiannya,” beber Roy.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com