NASIONAL

BKSDA Jakarta-YKAN ‘Ngonser’ Pentingnya Ekosistem Mangrove dan Keberadaan Satwa Liar

Acara Ngobrol Santai Konservasi (Ngonser) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat | Foto: BKSDA Jakarta

Banten.co – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menggelar acara Ngobrol Santai Konservasi (Ngonser) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan kegiatan Pameran Keanekaragaman Hayati Nusantara Expo 2019 yang sudah berlangsung sejak 8 November 2019 hingga 8 Desember 2019.

Tema yang diambil dalam kegiatan Ngonser ini adalah “Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Satwa di Ekosistem Mangrove di Indonesia”. Peserta yang hadir dalam acara Ngonser berjumlah kurang lebih 100 orang yang berasal dari komunitas pecinta satwa (Komunitas Dekat Bareng Reptile, Aspera, Musang Lovers Indonesia, Olix, KPRJ, Awan Free Fly, Sugar Glider Lover) dan Penegak Pramuka yang ada di wilayah DKI Jakarta.

Sementara, Narasumber yang hadir dalam kegiatan Ngonser kali ini adalah Kepala BKSDA Jakarta, Ahmad Munawir, Direktur Program MERA YKAN, Imran Amin dan pegiat pelestarian lingkungan, fotografer alam liar terkemuka di Indonesia, Riza Marlon. Selain itu hadir pula Sally Kailola dari YKAN selaku motivator konservasi.

Digelarnya kegiatan Ngonser ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang ekosistem mangrove dan keberadaan satwa liar yang ada di dalamnya. Menyebarkan kepada masyarakat luas tentang pentingnya pengelolaan terpadu ekosistem mangrove.

Lalu, untuk mempromosikan pengelolaan yang efektif dan implementasi strategi mitigasi dan adaptasi untuk mengatasi perubahan iklim. Meningkatkan kesadaran, partisipasi, dan pengetahuan generasi muda dalam upaya pelestarian satwa liar dan ekosistem mangrove.

Dan membagikan pengalaman tentang kelestarian satwa dan pendokumentasian

Seperti diketahui, Balai KSDA Jakarta memangku 4 (empat) kawasan konservasi yaitu Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke, Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Cagar Alam (CA) Pulau Bokor, dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Rambut.

Berdasarkan hasil analisa terdapat sekitar 350,80 ha luas mangrove di Jakarta dengan terdapat tidak kurang dari 16 jenis mangrove sejati. Jenis-jenis mangrove sejati tersebut antara lain, Avicenia alba, Bruguiera eriopetala, Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, Sonneratia acida/ S.alba, Xylocarpus granatum, dan jenis lainnya

“Berdasarkan hasil identifikasi dari tim BKSDA Jakarta terdapat keragaman satwa mulai dari kelompok reptile, mamalia, burung, dan ikan. Dari kelompok reptil yang dapat dijumpai pada ekosistem mangrove di Jakarta antara lain adalah buaya muara (Crocodylus porosus), kura-kura ambon (Cuora amboinensis), biawak (Varanus salvator), ular welang (Bungaru fasciatus), ular pucuk (Ahaetulla prasina), dan lain-lain,” kata Munawir disiaran pers yang diterima Minggu, (24/11/2019).

Di kawasan SM Pulau Rambut yang juga terdapat ekosistem mangrove bahkan dikenal sebagai “surga burung”. Beberapa spesies burung yang hidup di ekosistem mangrove antara lain Cangak abu (Ardea cinerea), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), Kowak Malam Kelabu (Nycticorax Nycticorax), Bangau Bluwok (Mycteria cinerea), Cikalang kecil (Fregata ariel), Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), dan lain-lain.

“Sementara dari mamalia antara lain monyetr ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kalong (Pteropus Vampirus) Dari kelompok ikan antara lain kan sapu-sapu (Hypotamus sp.), gabus (Ophiocephalus striatus),” jelas Munawir.

Sementara itu Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) merupakan sebuah platform kemitraan yang bekerja sinergis untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove.

“Program kerja MERA berlandaskan kajian ilmiah yang kuat sebagai acuan untuk membuat rencana desain restorasi hutan mangrove. Hal ini penting untuk mendukung kembalinya fungsi hutan mangrove sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar kumpulan pohon-pohon mangrove,” terang Imran.

“Generasi muda harus lebih peduli tentang pelestarian lingkungan termasuk satwa. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui pendokumentasian yang baik. Jika kita mempunyai dokumentasi yang baik, maka hal tersebut bisa dijadikan sebagai media pembelajaran hingga di masa mendatang,” ajak Riza.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com